Senin, 06 Juni 2016

TUGAS IBD = BUDAYA & GLOBALISASI

PERILAKU  KONSUMTIF DI ERA GLOBALISASI



Kata Pengantar
 Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

    Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca yang berjudul “PERILAKU KONSUMTIF DI ERA GLOBALISASI”, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baiklagi.

   Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

                                                             PEMBAHASAN
   Istilah kata “konsumtif “ ini digunakan pada masalah yang berkaitan dengan perilaku konsumen dalam kehidupannya. Dewasa ini salah satu gaya hidup konsumen yang cenderung terjadi di dalam masyarakat adalah gaya hidup yang menganggap materi sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan kepuasan. Gaya hidup seperti ini dapat menimbulkan adanya gejala komsumtivisme. Fromm (1998) mengatakan bahwa manusia sering dihadapkan pada persoalan untuk memenuhi kebutuhannya dan mempertahankan kehidupannya. Oleh karena itu, manusia harus melengkapi kebutuhannya tersebut. Namun tuntutan untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup kini bergeser menjadi dorongan untuk memenuhi keinginan dan hasrat seiring perkembangan zaman yang semakin maju dan kompleks, apalagi di era globalisasi saat ini.

Beberapa definisi menurut para ahli:

Menurut Rosandi (2004) perilaku konsumtif adalah suatu perilaku membeli yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak rasional lagi.
Sabirin (dalam Wardhani, 2009) mendefinisikan perilaku konsumtif sebagai suatu keinginan dalam mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan maksimal.
Cahyana (1995) memberikan definisi perilaku konsumtif sebagai tindakan yang dilakukan dalam mengkonsumsi berbagai macam barang kebutuhan.
Tambunan (2001) mengatakan bahwa perilaku konsumtif menunjukan pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.
Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perilaku konsumtif adalah sebuah perilaku seseorang/individu yang ditunjukan untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan tidak terencana terhadap jasa dan barang yang kurang atau bahkan tidak diperlukan. Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu yang semata-mata untuk memuaskan kesenangan serta lebih mementingkan keinginan dari pada kebutuhan. Sehingga tanpa pertimbangan yang matang seseorang begitu mudah melakukan pengeluaran untuk macam-macam keinginan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pokoknya sendiri

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif
Berbicara mengenai perilaku konsumtif, maka tidak lepas dari masalah proses keputusan pembelian. Menurut Assuari (1987), tingkat keinginan seseorang menempati tingkat yang paling tinggi dalam pembelian. Kemudian Assuari (1987) menambahkan bahwa perilaku konsumtif dapat terjadi karena:
1.      Pembelian ingin tampak berbeda dari yang lain. Remaja melakukan pembelian atau pemakaian dengan maksud unuk menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan yang lain.
2.      Ikut-ikutan. Seseorang melakukan tindakan pembelian hanya untuk meniru orang lain atau kelompoknya dan mengikuti mode yang sedang beredar.
Aspek – Aspek perilaku konsumtif
a. Aspek motif
Meliputi dorongan-dorongan yang bersifat rasional maupun yang irasional, ikutikutan
atau uji coba. Pada awalnya dorongan konsumen untuk melakukan
tindakan pemilihan diantara berbagai jenis dan macam produk dipengaruhi oleh
kualitas produk itu sendiri yang dianggap paling baik atau harganya cukup
terjangkau. Namun kenyataannya sering kali pertimbangan tersebut bukan hanya
sekedar kualitas dan faktor marketingnya, tetapi ada dorongan lain yang akan
menimbulkan keputusan dalam membeli yang lebih bersifat psikologis, sehingga
akan menimbulkan dasar pertimbangan yang irasional dan lebih bersifat
emosional dalam pengertiannya, karena hasil produk tersebut dapat meningkatkan
harga diri atau self estem serta dikagumi.

b. Aspek Kemutakhiran Mode
Mencakup macam-macam barang atau jasa yang sedang popular dan digemari
oleh orang banyak, sehingga orang cenderung beranggapan bahwa dirinya
prestissius bila mengkonsumsi produk-produk dengan merek tertentu, produk
tersebut dianggap fasionable.

c. Aspek Inferiority Complex
Berkaitan dengan masalah harga diri yang rendah, kurang percaya diri, gengsi.
Konsumen yang tidak yakin pada dirinya sendiri, maka ia akan membeli produk
dengan tujuan agar mendapatkan simbol status pribadi

Dampak-dampak yang diakibatkan Perilaku Konsumtif:
1.      Bagi diri sendiri
a.      Menimbulkan sifat boros, ini adalah dampak yang langsung terasa dari perilaku konsumtif. Jika kita terus membeli barang-barang tanpa perhitungan terlebih dahulu dan lebih mementingkan ego kita maka kita akan dengan mudah menghambur-hamburkan uang kita demi memenuhi hasrat/keinginan kita tanpa menghiraukan kebutuhan kita yang lebih utama.
b.      Mengaburkan skala prioritas kebutuhan, dengan kita hanya membeli barang sesuai dengan keinginan kita, maka kita akan lupa mana kebutuhan yang seharusnya diutamakan dan dipenuhi terlebih dahulu dan mana kebutuhan yang bisa dipenuhi di lain waktu dan bisa dipenuhi sewaktu-waktu.

2.      Bagi masyarakat
a.      Menimbulkan kesenjangan sosial, Orang dengan perilaku konsumtif cenderung terlihat berbeda dengan orang lain dalam hal pemenuhan kebutuhan. Hal ini menimbulkan jarak antara dirinya dengan orang lain yang akhirnya menimbulkan kesenjangan sosial. Hal ini terlihat jelas, jika kita membandingkan antara bagaimana orang kaya memenuhi kebutuhannya dengan orang miskin yang juga memenuhi kebutuhannya.
b.      Memicu lahirnya tindak kriminalitas, Kriminalitas bisa timbul dari si individu dengan perilaku konsumtif dan orang lain disekitarnya. Dari individu misalnya jika dia kehabisan uang maka dia bisa nekat untuk mencuri, menipu, atau melakukan tindak kriminalitas demi membeli barang yang diinginkannya. Sedang dari orang lain, bisa dipicu rasa iri atau orang tersebut terdesak kebutuhannya sendiri sehingga dia nekat melakukan kejahatan terhadap individu yang berperilaku konsumtif.

Globalisasi

    Globalisasi merupakan sebuah istilah yang berhubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di dunia yang meliputi hampir semua bidang kehidupan yang menyebabkan batasan suatu Negara menjadi semakin sempit. Dengan kata lain, jika suatu peristiwa terjadi di suatu Negara, maka dampaknya akan ikut mempengaruhi Negara lainnya. Jadi dapat dikatakan permasalahan di satu Negara ikut menjadi permasalahan di Negara lainnya. Interaksi antarnegara menjadi semakin sempit dan waktunya berlangsung dengan cepat tanpa ada batasan. Karena keterkaitan inilah, maka dunia terasa menyatu dan batas-batas wilayah antarnegara menjadi kabur/tidak jelas.
Globalisasi seperti halnya dua sisi mata uang, mempunyai sisi positif dan negatif, tergantung bagaimana kita memandang globalisasi itu sendiri dan apa saja dampak yang ditimbulkan dari adanya globalisasi. Adapun dampak positif dan negatif dari globalisasi antara lain.

Dampak positif:

1.      Perkembangan arus informasi
Interaksi antar bangsa dan Negara di era globalisasi yang seakan-akan tidak memperhatikan batas-batas wilayah antar Negara membuat arus informasi berkembang begitu cepat dan mudah. Berita-berita di suatu Negara dengan cepat dan mudahnya tersebar dan diketahui secara global. Perkembangan arus informasi ini juga berdampak pada makin mudahnya terjadi kontak budaya antar bangsa yang akhirnya menciptakan akulturasi budaya ataupun lahirnya budaya populer.
2.      Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
Globalisasi mendorong masyarakat untuk berpikir maju dan berkembang sesuai tuntutan perkembangan zaman. Perkembangan pemikiran ini melahirkan berbagai macam ide-ide atau pemikiran-pemikiran baru yang bermuara pada semakin maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Kemajuan IPTEK membuat masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas seperti belajar ataupun bekerja. Selain itu kemajuan IPTEK juga mendorong masyarakat untuk terus berpikir maju melahirkan ide-ide atau pemikiran-pemikiran baru lainnya.
3.      Tingkat kehidupan yang lebih baik
Globalisasi di bidang ekonomi mendorong tumbuhnya lapangan pekerjaan yang luas dan beragam contohnya semakin banyak muncul industri-industri yang tentunya membutuhkan tenaga kerja. Yang artinya semakin banyak orang yang bekerja maka akan meningkatnya taraf hidup masyarakat tersebut. Selain itu, semakin membaiknya pembangunan sarana dan prasarana publik seperti sekolah, rumah sakit, sarana transportasi dan komunikasi, dll membuat pelayanan masyarakat menjadi lebih baik dan memadai.

Dampak negatif:

1.      Pola hidup konsumtif
Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.
2.      Sikap individualistik
Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.
3.      Perubahan gaya hidup
Adanya kontak budaya Negara lain membuat perubahan gaya hidup masyarakat di suatu Negara. Perubahan itu bisa baik jika membawa kemajuan, tapi bisa berdampak buruk jika membawa pengaruh-pengaruh negatif khususnya pada generasi muda.
4.      Kesenjangan sosial

Hubungan prilaku konsumtif di era globalisasi

    Berbicara masalah perilaku konsumtif, tidak terlepas dari kebutuhan manusia itu sendiri. Setiap manusia yang hidup pasti memiliki kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia beranekaragam sesuai dengan karakter dirinya serta kondisi lingkungan disekitarnya. Seperti yang sudah diutarakan di atas, Kebutuhan manusia juga terus berkembang seiring perubahan zaman.
    Di era globalisasi seperti sekarang ini, kebutuhan manusia semakin beragam dan makin mudah untuk didapat. Kemudahan ini tidak terlepas dari semakin berkembangnya IPTEK dan semakin bebasnya arus informasi. Kini orang-orang semakin dimudahkan dalam memperoleh barang-barang kebutuhannya mulai dari kebutuhan yang paling mendasar seperti pangan, sandang, danpapan sampai kebutuhan yang sifatnya hiburan atau hanya untuk sekedar memuaskan hasrat/keinginan. Pada era globalisasi, dimana dunia seakan menyatu dan batas-batas wilayah antar Negara sudah tidak menjadi halangan lagi, dan itu berpengaruh pada arus perdagangan global yang semakin meningkat dan semakin berkembang. Hal ini sangat didukung oleh sistem pasar persaingan bebas (kapitalisme) yang diusung Negara-negara besar sebagai pelaku utama globalisasi. Sistem kapitalisme telah ikut mendukung perkembangan industri-industri penghasil kebutuhan manusia yang juga dibarengi dengan modernisasi di segala aspek bidang kehidupan.
    Perkembangan IPTEK, kemajuan di bidang industri, serta berbagai bentuk modernisasi lain tidak semata-mata adalah sesuatu yang hal yang positif. Dalam beberapa hal misalnya, semua bentuk modernisasi tersebut telah menimbulkan efek negatif pada perubahan tingkah laku manusia misalnya menumbuhkan pola hidup konsumtif di masyarakat. Sebagai contoh dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa sekarang, dulu sebelum ditemukannya telepon seluler, kita masih menggunakan telepon kabel yang jaringannya masih sangat terbatas dan biayanya masih sangat mahal sehingga orang-orang masih pikir-pikir dahulu sebelum berkomunikasi menggunakan telepon. Namun berbeda dengan sekarang, telepon seluler telah ditemukan dan semakin berkembang. Telepon seluler memiliki banyak keuntungan seperti mudah dibawa kemana-mana, jaringannya lebih luas, biayanya lebih murah bahkan sekarang sudah dilengkapi beberapa konten/fitur menarik seperti layanan pengirim pesan singkat (SMS), pemutar lagu/video, kamera, penyimpan data, dll. Sekarang ini, hampir tidak ada orang di dunia ini yang tidak menggunakan telepon seluler bahkan satu orang bisa memiliki lebih dari satu telepon seluler, hal ini juga dikarenakan makin pesatnya tumbuhnya industri-industri telepon seluler yang memiliki merk dagang sendiri-sendiri serta memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
   Selain perkembangan IPTEK, perkembangan arus informasi juga berpengaruh terhadap pola konsumtif masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari berkembangnya media massa baik cetak maupun elektronik. Kini orang semakin mudah menjumpai iklan berbagai produk yang dipasarkan melalui media koran, majalah, radio, televisi, bahkan internet. Tidak hanya promosi/iklan produk saja yang berkembang, bahkan sekarang proses transaksi jual beli dan pembayaran barang/produk menjadi sangat mudah. Kini kita tidak harus pergi ke toko atau pasar untuk membeli barang, tapi hanya tinggal menelepon di rumah saja kita sudah bisa memesan barang apapun yang kita inginkan. Selain itu, sekarang ini sudah berkembang sistem belanja online yang hampir sama seperti pemesanan lewat telepon. Sistem pembayaran juga sudah berkembang, sekarang kita tidak perlu membayar dengan uang cash, tapi hanya dengan menggesek kartu kredit atau melalui pembayaran M-banking/E-bangking yang telah disediakan oleh bank-bank.
    Hal lain yang tidak kalah penting yang mendorong terjadinya perilaku konsumtif adalah perubahan dan perkembangan mode, pengaruh budaya populer, dan pengaruh event-event besar berskala internasional. Ketiga faktor tersebut bisa dikatakan yang paling berpengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi barang/kebutuhan di era modern sekarang ini. Misalnya.ketika sedang berlangsungnya event Piala Dunia, banyak masyarakat yang membeli pernak-pernik yang berkaitan dengan sepak bola seperti kaos/jersey tim nasional, syal, bola sepak, poster pemain, dan pernak-pernak lainnya. Bahkan, mereka sampai rela memenuhi tempat-tempat yang mengadakan nobar (nonton bareng) hanya untuk sekedar menonton pertandingan sepak bola Piala Dunia.
   Dengan berbagai kemudahan dan pilihan yang makin banyak dan beragam, serta pengaruh dari trend/mode yang sedang berkembang, tidak mengherankan jika peluang terjadinya perilaku masyarakat yang konsumtif menjadi lebih besar. Hal ini juga tidak terlepas dari efek globalisasi itu sendiri yaitu akibat terjadinya kontak budaya antar bangsa sebagai dampak interaksi/hubungan antar Negara dalam berbagai lingkup bidang kehidupan. Salah satu dampak dari kontak budaya tersebut adalah berubahnya pola hidup masyarakat di suatu Negara yang cenderung mengikuti budaya/gaya hidup yang berlaku secara global baik itu gaya hidup  kebarat-baratan (westernisasi), budaya populer, maupun hal-hal yang berbau modern lainnya. Akibatnya bisa kita lihat sendiri, masyarakat kini lebih suka membeli barang-barang kebutuhan yang pada dasarnya kurang atau bahkan tidak dibutuhkan sama sekali dengan alasan untuk mengikuti trend yang ada, sebagai barang koleksi, menghibur diri, dan alasan-alasan tidak masuk akal lain yang sebenarnya bersifat semu belaka. Demi membeli barang-barang tersebut bahkan mereka rela mengorbankan kebutuhan dasar yang sebetulnya lebih berguna dan sangat dibutuhkan bagi kehidupan mereka. Perilaku konsumtif seperti ini sangat merugikan bagi diri sendiri karena membuat kita hidup boros dan tidak bisa menentukan prioritas hidup, dan bagi masyarakat di sekitar karena bisa menimbulkan kesenjangan sosial bahkan memicu tindakan kriminal.

Cara-cara mengatasi Perilaku Konsumtif
Setelah sebelumnya kita membahas tentang keterkaitan tentang globalisasi dan perilaku konsumtif, sekarang kita akan membahas beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi perilaku konsumtif antara lain sebagai berikut:
Yang dapat dilakukan oleh diri kita sendiri:
1.      Belajar hidup hemat
2.      Mulai menabung
3.      Berinvestasi
4.      Menggunakan kelebihan uang untuk beribadah, beramal, bersedekah, membayar zakat, berqurban, dll

Usaha yang dilakukan oleh Pemerintah:
1.      Merancang undang-undang untuk melindungi hak-hak konsumen
Pemerintah bersama badan legislatif menyusun undang-undang untuk melindungi hak-hak konsumen diantaranya:
a)      Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya.
b)      Promosi dan perlindungan kepentingan ekonomi sosial konsumen.
c)      Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi
d)     Pendidikan konsumen
e)      Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif
f)          Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka.
Adapun undang-undang tentang perlindungan konsumen di Indonesia yang sudah terbentuk yaitu UU no. 8 tahun 1999.
2.      Membentuk badan khusus yang menaungi perlindungan hak-hak konsumen
a.       Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)
Salah satu badan yang diatur secara khusus dalam undang-undang perlindungan konsumen adalah badan perlindungan konsumen nasional (BPKN), yang mempunyai fungsi memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia.
b.      Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat
Selain lembaga yang resmi dibentuk oleh pemerintah, menurut ketentuan dalam Bab VIII undang-undang tentang perlindungan konsumen, pemerintah-dalam Bab IX, pasal 44-memungkinkan dibentuknya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Lembaga ini diberikan kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen.

Kesimpulan
   Perilaku konsumtif pada dasarnya adalah perilaku individu yang ditunjukan untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan tidak terencana terhadap jasa dan barang yang kurang atau bahkan tidak diperlukan. Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu yang semata-mata untuk memuaskan kesenangan serta lebih mementingkan keinginan dari pada kebutuhan. Perilaku konsumtif adalah gaya hidup yang tidak rasional dan banyak membawa kerugian baik untuk diri sendiri maupun masyarakat disekitar kita. Beberapa faktor dapat menjadi penyebab timbulnya perilaku konsumtif. Dan perubahan-perubahan di era globalisasi adalah salah satunya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), pesatnya arus informasi, pengaruh mode dan budaya populer, atau kontak budaya dengan bangsa lain adalah beberapa perubahan di era globalisasi yang menjadi penyebab munculnya perilaku konsumtif di masyarakat. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumya, perubahan-perubahan tersebut harus kita sikapi dengan bijak agar tercipta keselarasan hidup di masyarakat.

Widjaja, Gunawan, Ahmad Yani. 2001. Hukum Tentang Perlindungan Konsumen. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
http://wahyusofyanto55.blogspot.co.id/2015/05/dampak-globalisasi-terhadap-perubahan.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS 4 SOFTSKILL BAHASA INGGRIS BISNIS 2

TUGAS 4 SOFTSKILL BAHASA INGGRIS BISNIS 2 IRZAN ADITIA N 13115472 4KA10 Practice Test 1 (Listening Section)  7. Spe...