Kata
Pengantar
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca yang berjudul “PERILAKU KONSUMTIF DI ERA GLOBALISASI”, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baiklagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca yang berjudul “PERILAKU KONSUMTIF DI ERA GLOBALISASI”, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baiklagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
PEMBAHASAN
Istilah
kata “konsumtif “ ini digunakan pada masalah yang berkaitan dengan perilaku
konsumen dalam kehidupannya. Dewasa ini salah satu gaya hidup konsumen yang
cenderung terjadi di dalam masyarakat adalah gaya hidup yang menganggap materi
sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan kepuasan. Gaya hidup seperti ini dapat
menimbulkan adanya gejala komsumtivisme. Fromm (1998) mengatakan bahwa manusia
sering dihadapkan pada persoalan untuk memenuhi kebutuhannya dan mempertahankan
kehidupannya. Oleh karena itu, manusia harus melengkapi kebutuhannya tersebut.
Namun tuntutan untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup kini bergeser
menjadi dorongan untuk memenuhi keinginan dan hasrat seiring perkembangan zaman
yang semakin maju dan kompleks, apalagi di era globalisasi saat ini.
Beberapa
definisi menurut para ahli:
Menurut Rosandi (2004)
perilaku konsumtif adalah suatu perilaku membeli yang tidak
didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan
yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak rasional lagi.
Sabirin (dalam Wardhani, 2009)
mendefinisikan perilaku konsumtif sebagai suatu keinginan dalam mengkonsumsi
barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan secara berlebihan untuk
mencapai kepuasan maksimal.
Cahyana (1995)
memberikan definisi perilaku konsumtif sebagai tindakan yang dilakukan dalam
mengkonsumsi berbagai macam barang kebutuhan.
Tambunan (2001)
mengatakan bahwa perilaku konsumtif menunjukan pada perilaku konsumen yang
memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan
jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.
Berdasarkan
dari beberapa pengertian diatas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perilaku
konsumtif adalah sebuah perilaku seseorang/individu yang ditunjukan untuk
mengkonsumsi secara berlebihan dan tidak terencana terhadap jasa dan barang
yang kurang atau bahkan tidak diperlukan.
Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu yang semata-mata untuk
memuaskan kesenangan serta lebih mementingkan keinginan dari pada kebutuhan.
Sehingga tanpa pertimbangan yang matang seseorang begitu mudah melakukan
pengeluaran untuk macam-macam keinginan yang tidak sesuai dengan kebutuhan
pokoknya sendiri
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perilaku konsumtif
Berbicara
mengenai perilaku konsumtif, maka tidak lepas dari masalah proses keputusan
pembelian. Menurut Assuari (1987), tingkat keinginan seseorang menempati
tingkat yang paling tinggi dalam pembelian. Kemudian Assuari (1987) menambahkan
bahwa perilaku konsumtif dapat terjadi karena:
1. Pembelian
ingin tampak berbeda dari yang lain. Remaja melakukan pembelian atau pemakaian
dengan maksud unuk menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan yang lain.
2. Ikut-ikutan.
Seseorang melakukan tindakan pembelian hanya untuk meniru orang lain atau
kelompoknya dan mengikuti mode yang sedang beredar.
Aspek
– Aspek perilaku konsumtif
a. Aspek motif
Meliputi dorongan-dorongan yang bersifat rasional
maupun yang irasional, ikutikutan
atau uji coba. Pada awalnya dorongan konsumen untuk
melakukan
tindakan pemilihan diantara berbagai jenis dan macam
produk dipengaruhi oleh
kualitas produk itu sendiri yang dianggap paling baik
atau harganya cukup
terjangkau. Namun kenyataannya sering kali
pertimbangan tersebut bukan hanya
sekedar kualitas dan faktor marketingnya, tetapi ada
dorongan lain yang akan
menimbulkan keputusan dalam membeli yang lebih
bersifat psikologis, sehingga
akan menimbulkan dasar pertimbangan yang irasional dan
lebih bersifat
emosional dalam pengertiannya, karena hasil produk
tersebut dapat meningkatkan
harga diri atau self estem serta dikagumi.
b. Aspek Kemutakhiran Mode
Mencakup macam-macam barang atau jasa yang sedang
popular dan digemari
oleh orang banyak, sehingga orang cenderung
beranggapan bahwa dirinya
prestissius bila mengkonsumsi produk-produk
dengan merek tertentu, produk
tersebut dianggap fasionable.
c. Aspek Inferiority Complex
Berkaitan dengan masalah harga diri yang rendah,
kurang percaya diri, gengsi.
Konsumen yang tidak yakin pada dirinya sendiri, maka
ia akan membeli produk
dengan tujuan agar mendapatkan simbol status pribadi
Dampak-dampak
yang diakibatkan Perilaku Konsumtif:
1. Bagi
diri sendiri
a. Menimbulkan
sifat boros, ini adalah dampak yang langsung terasa dari perilaku
konsumtif. Jika kita terus membeli barang-barang tanpa perhitungan terlebih
dahulu dan lebih mementingkan ego kita maka kita akan dengan mudah menghambur-hamburkan
uang kita demi memenuhi hasrat/keinginan kita tanpa menghiraukan kebutuhan kita
yang lebih utama.
b. Mengaburkan
skala prioritas kebutuhan, dengan kita hanya membeli barang sesuai dengan
keinginan kita, maka kita akan lupa mana kebutuhan yang seharusnya diutamakan
dan dipenuhi terlebih dahulu dan mana kebutuhan yang bisa dipenuhi di lain
waktu dan bisa dipenuhi sewaktu-waktu.
2. Bagi
masyarakat
a. Menimbulkan
kesenjangan sosial, Orang dengan perilaku konsumtif cenderung terlihat
berbeda dengan orang lain dalam hal pemenuhan kebutuhan. Hal ini menimbulkan
jarak antara dirinya dengan orang lain yang akhirnya menimbulkan kesenjangan
sosial. Hal ini terlihat jelas, jika kita membandingkan antara bagaimana orang
kaya memenuhi kebutuhannya dengan orang miskin yang juga memenuhi kebutuhannya.
b. Memicu
lahirnya tindak kriminalitas, Kriminalitas bisa timbul dari si individu
dengan perilaku konsumtif dan orang lain disekitarnya. Dari individu misalnya
jika dia kehabisan uang maka dia bisa nekat untuk mencuri, menipu, atau
melakukan tindak kriminalitas demi membeli barang yang diinginkannya. Sedang
dari orang lain, bisa dipicu rasa iri atau orang tersebut terdesak kebutuhannya
sendiri sehingga dia nekat melakukan kejahatan terhadap individu yang
berperilaku konsumtif.
Globalisasi
Globalisasi
merupakan sebuah istilah yang berhubungan dengan peningkatan keterkaitan dan
ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di dunia yang meliputi hampir semua
bidang kehidupan yang menyebabkan batasan suatu Negara menjadi semakin sempit.
Dengan kata lain, jika suatu peristiwa terjadi di suatu Negara, maka dampaknya
akan ikut mempengaruhi Negara lainnya. Jadi dapat dikatakan permasalahan di
satu Negara ikut menjadi permasalahan di Negara lainnya. Interaksi antarnegara
menjadi semakin sempit dan waktunya berlangsung dengan cepat tanpa ada batasan.
Karena keterkaitan inilah, maka dunia terasa menyatu dan batas-batas wilayah
antarnegara menjadi kabur/tidak jelas.
Globalisasi
seperti halnya dua sisi mata uang, mempunyai sisi positif dan negatif,
tergantung bagaimana kita memandang globalisasi itu sendiri dan apa saja dampak
yang ditimbulkan dari adanya globalisasi. Adapun dampak positif dan negatif
dari globalisasi antara lain.
Dampak
positif:
1. Perkembangan
arus informasi
Interaksi
antar bangsa dan Negara di era globalisasi yang seakan-akan tidak memperhatikan
batas-batas wilayah antar Negara membuat arus informasi berkembang begitu cepat
dan mudah. Berita-berita di suatu Negara dengan cepat dan mudahnya tersebar dan
diketahui secara global. Perkembangan arus informasi ini juga berdampak pada
makin mudahnya terjadi kontak budaya antar bangsa yang akhirnya menciptakan
akulturasi budaya ataupun lahirnya budaya populer.
2. Berkembangnya
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
Globalisasi
mendorong masyarakat untuk berpikir maju dan berkembang sesuai tuntutan
perkembangan zaman. Perkembangan pemikiran ini melahirkan berbagai macam
ide-ide atau pemikiran-pemikiran baru yang bermuara pada semakin maju dan
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Kemajuan IPTEK membuat
masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas seperti belajar ataupun
bekerja. Selain itu kemajuan IPTEK juga mendorong masyarakat untuk terus
berpikir maju melahirkan ide-ide atau pemikiran-pemikiran baru lainnya.
3. Tingkat
kehidupan yang lebih baik
Globalisasi
di bidang ekonomi mendorong tumbuhnya lapangan pekerjaan yang luas dan beragam
contohnya semakin banyak muncul industri-industri yang tentunya membutuhkan
tenaga kerja. Yang artinya semakin banyak orang yang bekerja maka akan
meningkatnya taraf hidup masyarakat tersebut. Selain itu, semakin membaiknya
pembangunan sarana dan prasarana publik seperti sekolah, rumah sakit, sarana
transportasi dan komunikasi, dll membuat pelayanan masyarakat menjadi lebih
baik dan memadai.
Dampak
negatif:
1. Pola
hidup konsumtif
Perkembangan
industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah.
Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak
pilihan yang ada.
2. Sikap
individualistik
Masyarakat
merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi
membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka
adalah makhluk sosial.
3. Perubahan
gaya hidup
Adanya
kontak budaya Negara lain membuat perubahan gaya hidup masyarakat di suatu
Negara. Perubahan itu bisa baik jika membawa kemajuan, tapi bisa berdampak
buruk jika membawa pengaruh-pengaruh negatif khususnya pada generasi muda.
4. Kesenjangan
sosial
Hubungan
prilaku konsumtif di era globalisasi
Berbicara
masalah perilaku konsumtif, tidak terlepas dari kebutuhan manusia itu sendiri.
Setiap manusia yang hidup pasti memiliki kebutuhan untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia beranekaragam sesuai dengan
karakter dirinya serta kondisi lingkungan disekitarnya. Seperti yang sudah
diutarakan di atas, Kebutuhan manusia juga terus berkembang seiring perubahan
zaman.
Di
era globalisasi seperti sekarang ini, kebutuhan manusia semakin beragam dan
makin mudah untuk didapat. Kemudahan ini tidak terlepas dari semakin
berkembangnya IPTEK dan semakin bebasnya arus informasi. Kini orang-orang
semakin dimudahkan dalam memperoleh barang-barang kebutuhannya mulai dari
kebutuhan yang paling mendasar seperti pangan, sandang, danpapan sampai
kebutuhan yang sifatnya hiburan atau hanya untuk sekedar memuaskan
hasrat/keinginan. Pada era globalisasi, dimana dunia seakan menyatu dan
batas-batas wilayah antar Negara sudah tidak menjadi halangan lagi, dan itu
berpengaruh pada arus perdagangan global yang semakin meningkat dan semakin
berkembang. Hal ini sangat didukung oleh sistem pasar persaingan bebas
(kapitalisme) yang diusung Negara-negara besar sebagai pelaku utama
globalisasi. Sistem kapitalisme telah ikut mendukung perkembangan
industri-industri penghasil kebutuhan manusia yang juga dibarengi dengan
modernisasi di segala aspek bidang kehidupan.
Perkembangan
IPTEK, kemajuan di bidang industri, serta berbagai bentuk modernisasi lain tidak
semata-mata adalah sesuatu yang hal yang positif. Dalam beberapa hal misalnya,
semua bentuk modernisasi tersebut telah menimbulkan efek negatif pada perubahan
tingkah laku manusia misalnya menumbuhkan pola hidup konsumtif di masyarakat.
Sebagai contoh dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa
sekarang, dulu sebelum ditemukannya telepon seluler, kita masih menggunakan
telepon kabel yang jaringannya masih sangat terbatas dan biayanya masih sangat
mahal sehingga orang-orang masih pikir-pikir dahulu sebelum berkomunikasi
menggunakan telepon. Namun berbeda dengan sekarang, telepon seluler telah
ditemukan dan semakin berkembang. Telepon seluler memiliki banyak keuntungan
seperti mudah dibawa kemana-mana, jaringannya lebih luas, biayanya lebih murah
bahkan sekarang sudah dilengkapi beberapa konten/fitur menarik seperti layanan
pengirim pesan singkat (SMS), pemutar lagu/video, kamera, penyimpan data, dll.
Sekarang ini, hampir tidak ada orang di dunia ini yang tidak menggunakan
telepon seluler bahkan satu orang bisa memiliki lebih dari satu telepon
seluler, hal ini juga dikarenakan makin pesatnya tumbuhnya industri-industri
telepon seluler yang memiliki merk dagang sendiri-sendiri serta memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Selain
perkembangan IPTEK, perkembangan arus informasi juga berpengaruh terhadap pola
konsumtif masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari berkembangnya media massa
baik cetak maupun elektronik. Kini orang semakin mudah menjumpai iklan berbagai
produk yang dipasarkan melalui media koran, majalah, radio, televisi, bahkan
internet. Tidak hanya promosi/iklan produk saja yang berkembang, bahkan
sekarang proses transaksi jual beli dan pembayaran barang/produk menjadi sangat
mudah. Kini kita tidak harus pergi ke toko atau pasar untuk membeli barang,
tapi hanya tinggal menelepon di rumah saja kita sudah bisa memesan barang apapun
yang kita inginkan. Selain itu, sekarang ini sudah berkembang sistem belanja
online yang hampir sama seperti pemesanan lewat telepon. Sistem pembayaran juga
sudah berkembang, sekarang kita tidak perlu membayar dengan uang cash, tapi
hanya dengan menggesek kartu kredit atau melalui pembayaran M-banking/E-bangking yang
telah disediakan oleh bank-bank.
Hal
lain yang tidak kalah penting yang mendorong terjadinya perilaku konsumtif
adalah perubahan dan perkembangan mode, pengaruh budaya populer, dan
pengaruh event-event besar berskala internasional. Ketiga faktor
tersebut bisa dikatakan yang paling berpengaruh terhadap perilaku masyarakat
dalam mengkonsumsi barang/kebutuhan di era modern sekarang ini. Misalnya.ketika
sedang berlangsungnya event Piala Dunia, banyak masyarakat yang
membeli pernak-pernik yang berkaitan dengan sepak bola seperti kaos/jersey tim
nasional, syal, bola sepak, poster pemain, dan pernak-pernak lainnya.
Bahkan, mereka sampai rela memenuhi tempat-tempat yang mengadakan nobar (nonton
bareng) hanya untuk sekedar menonton pertandingan sepak bola Piala Dunia.
Dengan
berbagai kemudahan dan pilihan yang makin banyak dan beragam, serta pengaruh
dari trend/mode yang sedang berkembang, tidak mengherankan jika
peluang terjadinya perilaku masyarakat yang konsumtif menjadi lebih besar. Hal
ini juga tidak terlepas dari efek globalisasi itu sendiri yaitu akibat
terjadinya kontak budaya antar bangsa sebagai dampak interaksi/hubungan antar
Negara dalam berbagai lingkup bidang kehidupan. Salah satu dampak dari kontak
budaya tersebut adalah berubahnya pola hidup masyarakat di suatu Negara yang
cenderung mengikuti budaya/gaya hidup yang berlaku secara global baik itu gaya
hidup kebarat-baratan (westernisasi), budaya populer, maupun hal-hal
yang berbau modern lainnya. Akibatnya bisa kita lihat sendiri, masyarakat kini
lebih suka membeli barang-barang kebutuhan yang pada dasarnya kurang atau
bahkan tidak dibutuhkan sama sekali dengan alasan untuk mengikuti trend yang
ada, sebagai barang koleksi, menghibur diri, dan alasan-alasan tidak masuk akal
lain yang sebenarnya bersifat semu belaka. Demi membeli barang-barang tersebut
bahkan mereka rela mengorbankan kebutuhan dasar yang sebetulnya lebih berguna
dan sangat dibutuhkan bagi kehidupan mereka. Perilaku konsumtif seperti ini
sangat merugikan bagi diri sendiri karena membuat kita hidup boros dan tidak
bisa menentukan prioritas hidup, dan bagi masyarakat di sekitar karena bisa
menimbulkan kesenjangan sosial bahkan memicu tindakan kriminal.
Cara-cara
mengatasi Perilaku Konsumtif
Setelah
sebelumnya kita membahas tentang keterkaitan tentang globalisasi dan perilaku
konsumtif, sekarang kita akan membahas beberapa cara yang dapat ditempuh untuk
mengatasi perilaku konsumtif antara lain sebagai berikut:
Yang
dapat dilakukan oleh diri kita sendiri:
1. Belajar
hidup hemat
2. Mulai
menabung
3. Berinvestasi
4. Menggunakan
kelebihan uang untuk beribadah, beramal, bersedekah, membayar zakat, berqurban,
dll
Usaha
yang dilakukan oleh Pemerintah:
1. Merancang
undang-undang untuk melindungi hak-hak konsumen
Pemerintah
bersama badan legislatif menyusun undang-undang untuk melindungi hak-hak
konsumen diantaranya:
a) Perlindungan
konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya.
b) Promosi
dan perlindungan kepentingan ekonomi sosial konsumen.
c) Tersedianya
informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka
melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi
d) Pendidikan
konsumen
e) Tersedianya
upaya ganti rugi yang efektif
f) Kebebasan
untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan
memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya
dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka.
Adapun
undang-undang tentang perlindungan konsumen di Indonesia yang sudah terbentuk
yaitu UU no. 8 tahun 1999.
2. Membentuk
badan khusus yang menaungi perlindungan hak-hak konsumen
a. Badan
Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)
Salah
satu badan yang diatur secara khusus dalam undang-undang perlindungan konsumen
adalah badan perlindungan konsumen nasional (BPKN), yang mempunyai fungsi
memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan
perlindungan konsumen di Indonesia.
b. Lembaga
Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat
Selain
lembaga yang resmi dibentuk oleh pemerintah, menurut ketentuan dalam Bab VIII
undang-undang tentang perlindungan konsumen, pemerintah-dalam Bab IX, pasal
44-memungkinkan dibentuknya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.
Lembaga ini diberikan kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan
perlindungan konsumen.
Kesimpulan
Perilaku
konsumtif pada dasarnya adalah perilaku individu yang ditunjukan untuk
mengkonsumsi secara berlebihan dan tidak terencana terhadap jasa dan barang
yang kurang atau bahkan tidak diperlukan. Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi
oleh nafsu yang semata-mata untuk memuaskan kesenangan serta lebih mementingkan
keinginan dari pada kebutuhan. Perilaku konsumtif adalah gaya hidup yang tidak
rasional dan banyak membawa kerugian baik untuk diri sendiri maupun masyarakat
disekitar kita. Beberapa faktor dapat menjadi penyebab timbulnya perilaku
konsumtif. Dan perubahan-perubahan di era globalisasi adalah salah satunya.
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), pesatnya arus informasi, pengaruh mode
dan budaya populer, atau kontak budaya dengan bangsa lain adalah beberapa perubahan
di era globalisasi yang menjadi penyebab munculnya perilaku konsumtif di
masyarakat. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumya, perubahan-perubahan
tersebut harus kita sikapi dengan bijak agar tercipta keselarasan hidup di
masyarakat.
Widjaja, Gunawan, Ahmad Yani. 2001. Hukum
Tentang Perlindungan Konsumen. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
http://wahyusofyanto55.blogspot.co.id/2015/05/dampak-globalisasi-terhadap-perubahan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar