ANALISIS KINERJA SISTEM
(Manajemen Kontrol Programing)
IRZAN ADITIA N
(13115472)
4KA10
Vclass Testing program 2
Kapan dan berikan contoh
melakukan Bottom-up Test ?
Jawab:
Pengertian :
1. Integrasi
Top Down adalah sebuah pendekatan untuk pengujian terpadu dimana komponen
tingkat terendah diuji terlebih dahulu,kemudian digunakan untuk memfasilitasi
pengujian komponen tingkat yang lebih tinggi. Proses ini diulang sampai
komponen di bagian atas hirarki diuji.
2. Integrasi
Bottom Up adalah sebuah pendekatan untuk pengujian terpadu dimana komponen
tingkat terendah diuji terlebih dahulu, kemudian digunakan untuk memfasilitasi
pengujian komponen tingkat yang lebih tinggi. Proses ini diulang sampai
komponen di bagian atas hirarki diuji.
3. Pengujian
Regresi adalah menjalankan kembali beberapa subset pengujian yang telah
dilakukan untuk meyakinkan bahwa perubahan punya efek samping yang diharapkan.
Pengujian
Integrasi Bottom-up
Memulai konstruksi dan
pengujian dengan modul atomic (modul pada tingkat paling rendah pada struktur
program). Karena modul diintegrasikan dari bawah ke atas, maka pemrosesan yang
diperlukan untuk modul subordinate ke suatu tuingkat yang diberikan akan selalu
tersedia dan kebutuhan akan stub dapat dieliminasi. Strategi integrasi
bottom-up dapat diimplementasi dengan langkah-langkah:
· modul
tingkat rendah digabung ke dalam cluster (build) yang melakukan subfungsi
perangkat lunak spesifik.
· Driver
(program control untuk pengujian) ditulis untuk mengkoordinasi input dan output
test case
· cluster
diuji
· driver
diganti dan cluster digabungkan dengan menggerakkannya ke atas di dalam
struktur program.
Contohnya, pendekatan top-down mungkin digunakan untuk
menemukan sektor-sektor unggulan, kemudian untuk memilih saham-saham dalam
sektor-sektor tersebut digunakan pendekatan bottom-up agar manajer investasi
dapat menemukan saham-saham yang memiliki fundamental yang bagus dan valuasinya
masih murah.
Sebaliknya, manajer investasi
juga dapat memulai proses pemilihan saham dengan pendekatan bottom-up jika ia
memang sudah memiliki sekumpulan saham yang ia nilai berpotensi. Dalam hal ini
pendekatan bottom-up memungkinkannya untuk mencari manakah emiten yang paling
atraktif - memiliki potensi terbesar untuk meraih pertumbuhan laba yang tinggi
dalam beberapa tahun ke depan. Begitu emiten pilihan ditemukan, barulah manajer
investasi mengaplikasikan pendekatan top-down untuk menentukan apakah emiten
tersebut benar-benar diuntungkan dengan kondisi makroekonomi tertentu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar